Latest News

Siaran Pers Komunitas Urip-Urip





Urip-Urip Tanggung Jawab Bersama

Wisata Malangku - Salam Budaya!

Alun-alun Merdeka, Kota Malang, Jawa Timur. Secara turun-temurun, menjadi pusat kegiatan rakyat dari segala penjuru arah. Sejarah, dan kehidupan hari ini, telah menjadikan bukti begitu besar peran alun-alun sebagai ruang publik, ruang sosial, ruang ekspresi, dan ruang apresiasi bersama.

Menapak pada sejarah, kehidupan hari ini, dan modal untuk melangkah di hari esok. Hari ini, Komunitas Urip-Urip menggelar ekspresi kesenian rakyat dari segala penjuru kota, di alun-alun kota yang menjadi pusat kota penuh makna dan sejarah bagi setiap warga kota ini.

Pentas ekspresi kesenian, dan kebudayaan, di panggung sederhana ini, menampilkan wayang ringkes yang dimainkan oleh dalang cilik, hasil proses bersama yang terus berjalan di sekolah dalang sukarela, dengan diasuh oleh Suwarno atau akrab disapa Mbah Warno.

Mbah Warno, juga memberikan orasi kebudayaannya di ruang ekspresi ini. Orasi ini, menjadi sebuah pemaknaan tentang menjaga kesenian tradisi, dan kebudayaan, untuk kemanusiaan. Membangun roso, dan memaknai makna dari ruang sosial yang ada, untuk generasi yang akan datang.

Bukan hanya wayang ringkes. Ruang ekspresi menjelang senja ini, juga menghadirkan teater jalanan, sebagai bentuk ekspresi kerakyatan, yang dimainkan oleh kawan-kawan teater Celoteh. Di pimpin Bejo Sandy, teater Celoteh mencoba berinteraksi dengan kita semua warga kota.

Ruang ekspresi bersama ini, ditutup dengan penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan M. Nashir, dan Jhony Suhermato. Dua pelaku seni, yang mencoba mengekspresikan dan merangkaikan cerita-cerita kota bersama kehidupannya. Sekaligus, memperintai hari wafatnya penyair besar Chairil Anwar, yang pernah berproses bersama di kota kita ini.






Hidup, untuk hidup. Memaknai makna kehadiran ruang sosial, di tengah kesibukan kehidupan kota. Coba dihadirkan dalam panggung ekspresi bersama yang sederhana ini, dengan tema besar Urip-urip. Tema ini sengaja diangkat, karena hidup yang kita bangun, adalah untuk menghidupi. Termasuk hidup, untuk menghidupi kesenian dan kebudayaan.

Komunitas Urip-urip sendiri adalah kita semua, yang selalu hidup untuk kehidupan. Diawali dari diskusi kecil, gabungan berbagai unsur masyarakat dan profesi baik budayawan, seniman, jurnalis, maupun masyarakat umum. Dari titik nol kilometer Kota Malang ini, nantinya urip-urip akan mencoba terus bergerak dan belajar bersama, menjaga hidup agar terus menghidupi.

Dalang cilik, dan pewayangan, menjadi salah satu pilihan dalam ruang ekspresi bersama ini, karena keduanya bagian dari tradisi dan generasi kita bersama. Mereka harus terus dijaga dihidupkan, dan menghidupkan kehidupan itu sendiri.

Akhirnya, dari ruang ekspresi yang terbuka ini, kami berharap proses belajar bersama dalam memberi makna dan memaknai ruang publik, akan dapat terus bergerak dan menjadi proses bersama, untuk kesenian, kebudayaan, dan peradaban.
Malang, 28 April 2016

Juru Bicara,
(M.Nashir, Jhoni Suhermaton, Suwarno, Bejo Sandy)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Anda ingin tempat wisata, kuliner, dan hotel Anda lebih dikenal dengan web ini? Kami akan membantu Anda. Bisa hubungi kami di SMS/TELP/WA : 085103414877